Pasar Properti Singapura Jatuh, Investor Incar Indonesia

Pasar properti di Singapura menunjukkan kinerja penurunan sejak 2 tahun terakhir.

Urban Land Institute dan PricewaterhouseCoopers (PwC) LLP bahkan memprediksi pasar properti Singapura lesu pada tahun depan.

Berdasarkan data ULI dan PwC, sebanyak 17 persen investor yang berminat untuk investasi di Vietnam berasal dari Singapura. Jumlah ini terbesar kedua setelah investor dari Jepang yakni 22 persen.

Selain itu, dalam survei tersebut, posisi Singapura menurun tajam di peringkat 21 dibandingkan proyeksi sebelumnya di tempat ke-11.

“Hal ini disebabkan masalah kelebihan kapasitas ruang kantor, anjloknya penjualan ritel, dan harga perumahan yang merosot dalam lima tahun,” tulis survei tersebut.

Sebuah kombinasi dari pelemahan ekonomi, kelebihan pasokan, penurunan permintaan, dan kejatuhan harga perumahan selama 12 kuartal berturut-turut telah menciptakan
“badai” yang sempurna untuk Singapura.

Saat ini, Singapura menjadi satu-satunya pasar di Asia Pasifik yang menderita penurunan siklus properti.

Sewa kantor di pusat kota Singapura merosot 3,5 persen pada kuartal kedua 2016. Pembatasan lima kuartal berturut-turut berkontribusi terhadap penurunan tarif sewa.

Informasi Selengkapnya Klik :  Dijual rumah di Kavling DKI

Tingkat hunian juga terdampak penyusutan permintaan karena perampingan sektor keuangan, khususnya perusahaan bank asing.

Meski demikian, menurut Chief Business Officer PropertyGuru Group Lewis Ng, penurunan penjualan yang terjadi di Kota Singa tersebut, sebenarnya berkurang sedikit demi sedikit pada tahun 2016.

“Kesempatan Singapura bangkit ada pada 2017. Apa yang saya lihat, volume transaksi pada akhir 2016 mulai naik,” ujar Lewis kepada Kompas.com saat Real Estate Summit 2017, di Jakarta, Kamis (8/12/2016).

Ia menambahkan, pasar properti Singapura juga masih menarik bagi para investor asing maupun lokal.

Sementara properti di Singapura lesu, para investor lokal mencari peluang lain di luar negara tersebut.

Salah satu yang diincar adalah negara-negara berkembang seperti Indonesia, Vietnam, dan Kamboja.

“Pasar Indonesia sangat menarik, begitu juga Vietnam. Kamboja, meski berisiko tinggi, tetap berpeluang,” sebut Lewis. Kompas.com