Permata Graha Land Berani Pasarkan Rumah Berharga Miring di Kelapa Gading

Bisnis properti hunian di Kelapa Gading memang tak pernah surut. Terbukti, masih ada pengembang melansir proyek barunya di kawasan bisnis di Jakarta Utara itu. Salah satunya Permata Graha Land Group (PGL) yang bersiap meluncurkan klaster barunya, menyusul sukses PGL memasarkan 80 persen dari 100 unit rumah di Permata Gading Residence yang baru diluncurkan pada November 2017. Dengan target pasar keluarga muda, perumahan dengan total luas area 3,8 hektar ini menawarkan harga Rp 700 jutaan, meskipun saat ini harga hunian di kawasan Kelapa Gading mencapai Rp 1 miliar ke atas. “Sebelumnya kami sudah memasarkan tahap 1 dan 2 dan habis,” ujar CEO PGL, Frendcis Halim di Jakarta. Clusster terbaru bernama Woodland itu dibangun tidak ubahnya sebuah unit apartemen dua tempat tidur atau satu tempat tidur dengan harga yang hampir sama. Meski terbilang murah untuk kawasan Kelapa Gading, lanjut Halim, hunian tersebut menyiapkan fasilitas untuk kalangan premium, mulai club house, pusat komunitas dan keluarga, pusat kebugaran, dan pusat kuliner.
Untuk Informasi Selengkapnya Klik :  DISINI

 

Direktur Marketing Permata Graha Land, Satya Adi, mengatakan dengan lokasi sekitar dua kilometer dari Mall kelapa Gading dan akses tol Wiyoto-Wiyono dan tol Cakung Cilincing, pembangunan PGL optimistis bisa meraih penjualan di Cluster barunya ini. “Selain tol Kelapa Gading dalam kota dan flyover ke Cakung dan Bekasi, ada terminal busway Pulogadung dan akan segera dibangun LRT Kelapa Gading- Velodrome yang melewati MKG. Kami yakin kenaikan nilai investasi properti di sini bisa mencapai minimal 35 persen,” tambah Satya. Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW), Ali Tranghanda, mengatakan bahwa memang masih ada pengembang berani menjual hunian di bawah Rp 1 miliar di kawasan Kelapa Gading. Alasan utama, menurut dia, fasilitas di kawasan itu sangat lengkap. “Dan sudah dua tahun ini tidak banjir parah, khususnya kawasan Kelapa Gading belakang yang relatif lebih tinggi, sebaliknya kawasan lama di depan malah banjir,” ujar Ali. Kompas.com