Stok Pasar Seken Menipis, Harga Rumah Bakal Naik

Kenaikan atau penurunan harga rumah sekunder dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari gimmick pengembang untuk menjual rumah primer hingga kebijakan pemerintah.

Pengembang yang berulang kali menekankan bahwa membeli properti pasti untung, membuat investor tergiur dan memborong beberapa unit sekaligus.

Namun, tiba-tiba pada tahun lalu pemerintah mengeluarkan kebijakan Amnesti Pajak. Hal ini membuat para investor kelimpungan terutama yang menyimpan properti untuk jangka pendek.

Para investor ini “kebakaran jenggot” saat diminta mendeklarasikan aset dan kekayaannya yang mungkin memiliki 5-10 properti sekaligus.

Akibatnya, investor menghentikan pembelian rumah karena pemerintah menjaring pajak untuk mencegah pembelian properti yang tidak dilaporkan.

“Para investor yang pegang properti tersebut, terpaksa harus melepas barangnya dengan cepat. Ini membuat harga sempat jatuh sampai 20-30 persen,” ujar Ketua Umum Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) Hartono Sarwono saat Rumah.com Agent Summit 2017 di Jakarta.

Di satu sisi, menurut Hartono, kebutuhan properti masih ada sehingga penjualan tetap berlangsung, tetapi lebih fokus pada end user atau penghuni.

Selain itu, penjualan tetap terjadi karena memang secara makro, ekonomi di Indonesia tidak terlalu banyak masalah, kecuali dari sektor ritel.

Info Selengkapnya Klik :  DISINI

 

Stok menipis

Saat ini, Hartono menilai, pasar sudah mulai kembali bergairah. Pasalnya, investor yang sebelumnya punya lebih dari 4 properti, setelah Amnesti Pajak kepemilikan propertinya jadi berkurang.

“Mereka pun akan tahan (penjualan) untuk anak-anaknya. Kalaupun menjual, mereka tidak akan rilis dengan harga yang murah itu lagi,” tutur Hartono.

Dengan ditahannya properti yang dilepas ke pasar oleh investor, sementara penjualan tetap ada, pasokan semakin berkurang.

Terlebih lagi, di pasar primer juga pasokan terbatas mengingat banyak pengembang yang turut menahan pembangunan secara besar-besaran.

Para pengembang ini cenderung menunggu stok properti di pasar terserap, sedangkan selama kurun waktu 2015-2017, penyerapannya cukup besar.

“Saya kira pasokan seken yang dulu diinvestasikan sudah mulai habis. Otomatis,
primary masuk. Begitu itu masuk, harga akan naik lagi,” tuntas Hartono. Kompas.com