BI Turunkan Giro Wajib Minimum, Bank BUMN Kebanjiran Rp 8,5 T

Bank Indonesia (BI) mengeluarkan kebijakan yakni menurunkan rasio giro wajib minimum (GWM) sebesar 50 basis poin atau 0,5% untuk bank umum konvensional dan bank syariah. Dengan dilonggarkannya GWM, bank BUMN kebanjiran dana hingga Rp 8,5 triliun.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menyebut akan ada penambahan likuiditas sebanyak Rp 4,5 triliun dari penurunan GWM oleh bank sentral. Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengungkapkan dengan kebijakan tersebut maka loan to deposit ratio (LDR) bank bisa lebih longgar.

“Akibat pelonggaran itu ada penambahan likuiditas hingga Rp 4,5 triliun. Ada uang cash masuk, jadi yang tadinya tersimpan di BI sekarang ada di bank,” kata Haru di Gedung DPR.

Haru mengatakan, ketersediaan likuiditas tersebut akan disalurkan untuk penyaluran kredit. Hal tersebut juga akan mendorong kredit perseroan.

“Jadi ada tambahan likuiditas dan itu disalurkan di kredit, kita jaga itu LDR karena rata-rata tinggi ya, dengan begitu LDR bisa lebih rendah lebih likuid. Jadi bagus kebijakan kebijakan itu,” kata Haru.

Sekadar informasi LDR BRI hingga akhir Maret 2019 yakni 91,39% dengan CAR 21,91%. Dengan rasio yang cukup kuat tersebut BRI optimistis mampu tumbuh positif dan berkelanjutan.

Kemudian untuk PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menyebut ada penambahan likuiditas untuk perseroan dari penurunan GWM tersebut.

 

Rumah Cluster Greenwood Golden City Bekasi

Informasi Lengkap Klik :  DISINI

 

Direktur Bank Mandiri, Panji Irawan mengungkapkan ada penambahan dana segar hingga Rp 4 triliun dari pelonggaran GWM.

“Dana itu bisa digunakan untuk macam-macam,” kata Panji.

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Achmad Baiquni menjelaskan dari penurunan GWM turut membantu meningkatkan likuiditas. Meskipun saat ini tak ada isu likuiditas di BNI.

“Sekarang likuiditas kita aman-aman saja, yang pasti GWM itu juga menambah likuiditas kita. Sekarang LDR ada di kisaran 91%,” jelas dia. Detik.com